Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

10/29/2016

6 Ciri yang Dimiliki Seorang Sahabat Sejati

“Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu

Di hari kita saling berbagi.... Pegang pundakku, jangan pernah lepaskan Bila ku mulai lelah' lelah dan tak bersinar.....”

Itu adalah sepenggal lirik dari lagu Sahabat Sejatinya Sheila On 7. 

Mungkin saja kalian memiliki beberapa teman yang bisa dikategorikan sebagai sahabat, namun jika di tanyakan lagi siapa  sahabat sejati kalian? Terkadang di situ kita merasa bingung, dan  bahkan kita jadi ragu apakah mereka sahabat sejatiku ?

Nah kalau kamu masih ragu , ini ada  ciri-ciri yang dimiliki sahabat sejati, kalau sahabat di hidupmu memilikinya, mereka layak di pertahankan, karena merekalah sahabat sejatimu

1. sahabat  itu berempati
Sahabat yang bisa merasakan apa yang sedang kita rasakan, seorang pendengar yang baik.  sahabat yang saling berbagi, dan Semakin sering kita  dan sahabat saling mendengarkan dan saling menopang, maka semakin eratlah ikatan emosional itu terjalin.
2. sahabat  itu  tidak egois
Teman-teman yang berhak menerima predikat sahabat sejati adalah mereka yang tidak egois. Ia peduli dan tidak memikirkan dirinya sendiri.
3. sahabat  itu bisa dipercaya
Terkadang saat kita dilanda masalah dan ingin berbagi kita dihadapi dengan sulitnya mencari orang yang dapat dipercaya mendengar dan “menjaga “ masalah kita. Namun jika kamu tidak kesulitan untuk mencari orang yang dapat dipercaya, itulah sahabat sejati kamu
4. sahabat  itu memiliki ketertarikan yang sama
Entah itu hobi, olahraga, mimpi -  mimpi, pendidikan, nilai, prinsip, bahkan keyakinan yang sama membuat kita enjoy menjalani persahabatan Secara tidak langsung kesamaan itu mempererat hubungan.
5. Sahabat  itu  memiliki cara pandang  yang berbeda
Di sinilah serunya, karena kita memiliki cara pandang yang berbeda dengan sahabat maka kita dapat tumbuh dewasa dalam  pola pikir dan bersikap.
Terkadang, perdebatan bahkan pertengkaran dengan sahabat dapat memberikan perspektif, ide, pengalaman, dan nasihat yang pasti sangat membantu.
6. Sahabat  itu mengutamakan kepentingan bersama
Persahabatan yang tidak mementingkan kepentingan sendiri layak untuk dijaga. Kepentingan bersama menjadi prioritas utama. Sehingga komunikasi dan kebersamaan menjadi sangat penting.

 IKM
Baca Selengkapnya »

1/14/2014

Terlalu Banyak Melarang pada Anak, Penyakit Psikologis OCD Menanti

Sudah kebiasaan orang tua atau guru melarang ini dan itu pada anak atau muridnya, tidak boleh lompat-lompat, tidak boleh berlari, tidak boleh sentuh ini dan itu. Anda pernah mengatakan kalimat itu pada anak demi kesehatan atau keselamatan mereka?, STOP!, anda telah merusak psikologi anak anda.

Pola asuh yang terlalu protektif atau mengekang dapat menyebabkan rasa cemas berlebihan pada si anak. Anak yang tidak berhasil memenuhi tuntutan orang tuanya akan berisiko mengalami gangguan OCD (Obsessive Compulsive Disorder).

Apa itu OCD?


Kisah nyata :

Seorang remaja berusia 16 tahun di Surabaya. Remaja ini diketahui mengalami gangguan tersebut (OCD), yang kemudian dibawa ibunya ke poliklinik RSUD dr Soetomo Surabaya untuk diperiksakan kondisi psikologisnya.

Adapun keluhannya meliputi :

  1. Sering mencabuti rambut hingga kepala botak,
  2. Menggigit kuku hingga jarinya terluka, 
  3. Serta sering mencuci tangannya setelah menyentuh benda atau bersalaman dengan orang lain. 


Dokter Yunias Setiawati SpKJ yang menangani pasien tersebut menyebutkan jika keluhan pasien akan bertambah ketika menghadapi suatu masalah.

Misalnya adalah ketika pasien sedang menghadapi berbagai tugas berat di sekolah.

Hal ini membuat keluhannya semakin bertambah, bahkan remaja tersebut mandi berulang kali dalam sehari dan susah untuk tidur.

Pasien tersebut sebenarnya menyadari jika perilakunya tidak wajar, namun dia tidak bisa menghentikannya.

Rasa cemas yang dialami pasien tersebut akan mereda setelah mencuci tangan dan mencabut rambutnya.

Oleh karena itu, pasien ini datang ke dokter Yunias untuk meminta bantuan dalam menghentikan kebiasaannya tersebut.

Yunias pun melakukan wawancara secara mendalam kepada pasien tersebut dan ibunya. Setelah diwawancara, diketahui fakta bahwa ibunya adalah orang yang sangat teliti dan pembersih.

Ibunya juga sering melarangnya untuk bermain yang kotor-kotor.

Di sisi lain, ayahnya adalah sosok pekerja keras, di mana semua pekerjaannya harus selesai dengan sempurna dan tepat waktu.

Ayahnya juga sering memarahi pasien bila nilai pelajarannya buruk dan tidak sesuai harapan.

Yunias mengatakan bahwa itu hanya salah satu contoh dari sekian banyak kasus pasien yang mengalami OCD.

Penjelasan para Ahli :

Obsesif dan Kompulsif

Obsesif merupakan gangguan gagasan, proses pemikiran yang disadari terjadi berulang-ulang, namun tidak dapat dilawan. Gangguan tersebut juga tidak rasional.

Sedangkan kompulsif adalah suatu bentuk perilaku yang dilakukan secara berulang dengan tujuan untuk meredakan rasa cemas akibat pikiran obsesif.

Sebanyak 1-2 persen dari gangguan obsesif-kompulsif dimulai pada masa kanak-kanak.
Di Poliklinik kejiwaan Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya, setidaknya ada sekitar 3 hingga 5 pasien setiap harinya yang membutuhkan penangangan akibat gangguan tersebut.

OCD bisa dialami oleh siapa saja, baik perempuan ataupun laki-laki dengan sosio-ekonomi menengah.

Overprotective dan OCD

Salah satu hal yang melatarbelakangi seseorang mengalami OCD adalah terlalu protektifnya pola asuh orang tua, seperti selalu mengatur anak, perfeksionis, dan pembersih. Pola asuh semacam ini dapat menimbulkan kecemasan pada anak.

Tuntutan yang berlebihan dapat menyebabkan kegagalan pada anak untuk memenuhi harapan atau ekspektasi orang tua, sehingga pada akhirnya menimbulkan gangguan tersebut.

Akan saya jelaskan bagaimana OCD bisa terjadi secara sederhana;

Dalam psikologi, Anak telah dirancang oleh Tuhan memiliki rasa penasaran yang tinggi guna menyempurnakan kemampuan berpikirnya.

Saat anak anda penasaran melihat lipstik yang anda simpan di meja rias, anak akan berusaha mendekatinya dan mempelajarinya dengan caranya sendiri,

Baru saja anak anda ingin menyentuhnya, tiba-tiba anda melarang anak anda memegang lipstik tersebut karena takut lipstik anda rusak atau wajah anak anda blepotan bergaris merah.

Karena tidak bisa menyalurkan rasa penasaran anak anda karena anda melarangnya, lalu kemanakah perginya energi yang menimbulkan rasa penasaran tersebut? Menghilang begitu saja? Jawabannya, Tidak.

Energi yang menimbulkan rasa penasaran tersebut akan tetap ada dan tersimpan di dalam otak dalam bentuk berkas listrik atau katakanlah mirip orang yang sangat ingin buang air kecil tapi toilet terkunci rapat.



Anak anda adalah masa depan anda, waktu tidak akan kembali. Pikirkan baik-baik tindakan anda sebelum anda merusak masa depannya dan masa depan anda sendiri.
Was edited

Referensi : http://www.artikelkesehatan99.com
Baca Selengkapnya »

11/26/2013

SURVEI MEMBUKTIKAN, TERNYATA WANITA LEBIH EGOIS

Ternyata Survei Membuktikan, Perempuan Lebih Egois. Survei menunjukkan perempuan lebih egois dibandingkan laki-laki. Perempuan juga cenderung bicara buruk mengenai temannya kepada orang lain. Riset mengenai perilaku dan sikap egois ini melibatkan 2.000 perempuan dan laki-laki. Riset digelar oleh organisasi kerelawanan di Inggris untuk memperingati Hari Kerelawanan.

Tujuh dari sepuluh responden mengakui mereka egois. Bahkan 50 persen responden mengaku konsisten menjalankan dua atau lebih aktivitas yang individualistis setiap harinya. Sebenarnya secara umum, perempuan dan laki-laki sama-sama egois. Namun, riset ini menunjukkan data yang lebih spesifik bahwa ternyata perempuan jauh lebih egois. Fakta ini ditemui dalam berbagai perilaku harian. Perempuan cenderung tak menunjukkan kepeduliannya.

Simpati perempuan terhadap orang lain rendah. Sekitar 43,2 persen perempuan cenderung tak bersimpati terhadap orang lain. Sementara hanya 38,6 persen pria yang tak bersimpati dengan orang lain. Perempuan cenderung mengurungkan niatnya membukakan pintu untuk orang lain ketimbang pria. Hanya 19,3 persen pria yang tak membukakan pintu saat orang lain membutuhkan. Sementara 20,2 persen perempuan cenderung tak peduli membukakan pintu. Hanya 27,3 persen pria yang enggan menolong perempuan paruh baya untuk membawa barang belanjaannya. Sementara itu, ada 32,1 persen perempuan tak tergerak menolong perempuan paruh baya tersebut.

Dalam hubungan berpasangan, perempuan juga cenderung egois. Riset ini menunjukkan bahwa 27,1 persen perempuan memilih DVD yang disukainya, tanpa memikirkan pasangannya suka atau tidak. Sementara itu, hanya 26,2 persen laki-laki yang melakukan hal serupa. Artinya, lebih banyak laki-laki yang mempertimbangkan perasaan atau pendapat pasangannya dalam memilih suatu barang.

Lebih dari setengah responden perempuan mengaku memasak makan malam yang diinginkannya. Sementara itu, hanya 45,9 persen laki-laki yang memasak makan malam sesuai keinginannya. Selebihnya, laki-laki memilih masakan makan malam dengan mempertimbangkan orang lain.

Soal makanan favorit, seperti cokelat, perempuan juga lebih egois. Perempuan mau berbagi cokelat, tetapi mengambil porsi lebih besar. Sebanyak 37,9 persen perempuan mengambil potongan cokelat lebih besar saat berbagi dengan orang lain. Sementara itu, hanya 30,1 persen pria yang melakukan hal serupa.

Bahkan dalam keluarga, perempuan juga cenderung sibuk dengan dirinya. Ada 50,1 persen perempuan yang lupa dengan hari ulang tahun anggota keluarganya, sedangkan lebih dari 50 persen laki-laki mengingat hari ulang tahun anggota keluarga mereka. Fakta lainnya, 42,6 persen perempuan cenderung tak menghubungi keluarga, sedangkan hanya 35,5 persen laki-laki yang tak berkomunikasi dengan keluarganya.

Dalam pertemanan, perempuan cenderung bicara buruk mengenai temannya kepada orang lain. Ada 55,6 persen responden perempuan yang berbicara buruk mengenai orang lain, sedangkan hanya 42,2 persen laki-laki yang melakukannya.

Mengenai kepedulian sosial, perempuan memiliki perilaku seimbang. Soal membantu orang lain yang membutuhkan pinjaman uang tunai, hanya 19,7 persen perempuan yang tidak mau meminjamkan uang. Angka ini lebih rendah dibandingkan laki-laki karena 25,5 persen laki-laki tak sudi meminjamkan uang tunai kepada orang yang membutuhkan. Sebanyak 61,1 persen perempuan mengaku tak mau memberikan uang kecil kepada tunawisma yang memintanya. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 51,3 persen laki-laki yang menolak peminta-minta.

Dalam kegiatan kerelawanan, 86,9 persen perempuan enggan terlibat dalam kegiatan sukarela. Berbeda tipis dengan laki-laki, 82,2 persen tak mau terlibat dalam kegiatan kerelawanan. Meski begitu, hanya 65,5 persen perempuan yang menolak membantu sukarelawan dalam menjalankan aktivitasnya. Sementara itu, laki-laki, selain enggan terlibat dalam kegiatan kerelawanan, 77,1 persen dari mereka juga tak tertarik membantu relawan dalam menjalankan aktivitas kerelawanan.

Direktur Program Organisasi Kerelawanan Inggris Caroline Revell menyayangkan perilaku egois yang didapatkan dari kebanyakan warga Inggris.

“Survei ini menunjukkan, meluangkan waktu untuk kegiatan kerelawanan lebih berat ketimbang tindakan keegoisan lainnya, seperti melupakan hari ulang tahun keluarga atau bicara buruk tentang orang lain. Lebih dari 80 persen perempuan dan laki-laki tidak mempertimbangkan untuk terlibat dalam kegiatan kerelawanan. Kerelawanan tak muncul dalam pikiran perempuan dan laki-laki. Padahal, dengan berbuat sesuatu untuk orang lain, Anda merasa lebih berarti dan sebenarnya tindakan tersebut membantu diri sendiri. Setiap orang memiliki kesempatan untuk mengajar anak jalanan, bertindak menyelamatkan hewan atau lingkungan, sekaligus mengeksplorasi budaya baru melalui kegiatan kerelawanan,” tuturnya.

Sumber: dailymail.co.uk, kompas.com
Baca Selengkapnya »

12/20/2012

Langkah Penting Dalam Membentuk Anak Jenius

Siapa sih yang tidak mau anaknya menjadi jenius/pintar? Setiap orang tua di dunia ini pastilah mendambakan hal itu.
Nah, ini ada beberapa kiat yang bisa anda lakukan untuk membuat buah hati anda menjadi pintar, dan mempunyai kemampuan menyerap dengan cepat segala sesuatu yang dipelajarinya.
1. Mengajari Anak Bermain Musik
- Selain sebuah kegiatan yang menarik bagi anak, bermain alat musik juga membantu merangsang pertumbuhan otak kanan pada anak.
2. Bermain Game Asah Otak
- Permainan yang mengandalkan kecerdasan otak seperti catur, teka-teki silang atau sudoku, mampu mendukung strategi berpikir anak-anak. Dimana saat memainkan game ini anak dapat mengasah kemampuannya untuk menganalisa serta menentukan pilihan.
3. ASI
- Tidak dapat dipungkiri bahwa peran Air Susu Ibu (ASI) eksklusif pada mempunyai peran penting dalam kecerdasan anak saat ia tumbuh dewasa. Dalam berbagai studi yang dilakukan ilmuwan, pemberian ASI eksklusif berdampak langsung pada tingginya tingkat kecerdasan anak, dibanding mereka yang hanya diberikan ASI selama beberapa bulan saja atau bayi yang diberikan susu formula.
4. Membiasakan Anak Berolahraga
- Olahraga bagi anak juga penting. Dimana, semakin bugar sang anak, maka kemampuannya dalam menerima pelajaran juga meningkat.
5. Mengembangkan Rasa Ingin Tahu Anak
- Mengajari keterampilan baru pada buah hati dan memperkenalkannya dengan dunia luar dapat merangsang cara berpikir anak, mengembangkan rasa ingin tahu dan intelektualnya.
6. Memberikan Anak Sarapan Sehat
- Memberikan menu sarapan yang sehat bagi anak akan meningkatkan memori dan konsentrasinya dalam belajar. Apalagi pada usia dini, anak membutuhkan asupan nutrisi dalam jumlah besar untuk menunjang perkembangan kecerdasan serta fisiknya.
7. Hindari Junk Food
- Menyingkirkan junk food atau makanan cepat saji dari menu makanan anak merupakan suatu yang sangat penting bagi orang tua. Karena meskipun tampak lebih lezat dan menarik (biasanya restoran cepat saji berupaya menarik anak-anak dengan memberikan hadiah mainan), namun nutrisi yang terkandung dalam makanan tersebut amatlah sedikit. Ada baiknya anda menggantinya dengan makanan bergizi tinggi yang baik untuk perkembangan mental anak usia dini, yang berfungsi dalam perkembangan motorik anak pada 1 sampai 2 tahun pertama mereka.
8. Membaca
- Membacakan dongeng kepada anak sebelum tidur, memberikan hadiah buku yang menarik, adalah salah cara untuk merangsang minat baca pada anak. Selain itu, dengan membaca anak dapat mengembangkan daya imajinasi serta memperluas pengetahuannya.
9. Mengajarkan Kepercayaan Diri Sejak Dini
- Membangun kepercayaan diri anak sejak usia dini berperan dalam meningkatkan hubungan sosialnya. Hal seperti berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau tim olahraga, membuat anak semakin percaya diri, dan membantunya untuk tidak cepat menyerah dalam melakukan sesuatu. Kepercayaan diri yang tinggi juga mendorong anak untuk lebih Pede dalam menciptakan atau melakukan sesuatu yang baru, serta lebih mudah berinteraksi dengan lingkungan sosial sekitarnya.
Baca Selengkapnya »

3/02/2012

BLOKIR SITUS PORNO UNTUK ANAK KITA

Agar anak kita tidak rusak dan merusak secara biologis, maka kita sangat perlu memblokir akses pornografi termasuk internet purple area. menurut beberapa ahli psikologi di  eropa dan jepang bahwa nafsu syahwat harus di bebaskan sebebas mungkin agar bendungan syahwat tidak jebol dan mengakibatkan bencana banjir syahwat. apakah anda setuju dengan pernyataan tersebut?, kalau saya sih 100% tidak setuju, soalnya berdasarkan realita yang terjadi ditengah masyarakat sekarang justru sebaliknya, semakin nafsu di biarkan, maka pengrusakan semakin terjadi, buktinya di negara Jepang sendiri yang menganut faham "nafsu perlu bebas" ternyata tingkat aksi hubungan seksual di luar nikah di negara robot tersebut malah sangat tinggi, memang sih tingkat pemerkosaan sangat rendah, tapi dari sekian kasus pemerkosaan di Jepang sebagian besar adalah pemerkosaan yang sangat sadis dan sangat tidak manusiawi. jadi, selain kita memegang teguh budaya timur, kita juga sebagai bangsa yang beragama, sangat melarang hal-hal tersebut. so, silahkan ikuti petunjuk NAWALA project dibawah ini untuk memblokir situs porno demi kelangsungan moralitas kita dan modernisasi yang lebih sehat.







intinya, isi preferred DNS dan Alternate DNS dengan angka dibawah ini :

Baca Selengkapnya »

10/20/2011

10 KESALAHAN MENDIDIK ANAK


Apa yang akan terjadi jika anak dibesarkan dalam kondisi yang dipenuhi dengan kekerasan?


Tentu, ia akan mengadopsi cara-cara yang sering ia lihat ke dalam kehidupannya kelak. Meski tak selalu, lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya, 

termasuk bagaimana orang tua mendidik mereka.Anak yang dibesarkan dalam situasi keluarga yang nyaman tentu berbeda dengan anak yang selalu diberi hukuman fisik oleh orang tuanya. 

Sayangnya, tak sedikit orang tua yang tidak tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anak pun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan. 


Nah, berikut ini adalah 10 hal yang harus dihindari dalam mendidik anak:

1. Terlalu lemah 

Misalnya, selalu memenuhi semua permintaan anak. Anak tidak diajar untuk mengenal hak dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi terlalu penuntut, impulsif (gampang melakukan tindakan tanpa perhitungan), egois, dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain.

2. Terlalu menekan
Misalnya, orang tua terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk menentukan keinginannya sendiri, atau untuk mengembangkan minat dan kegiatan yang ia inginkan. Akibatnya, anak akan menjadi lamban, selalu bekerja sesuai perintah, tidak memiliki pendirian, dan suka melawan. 

3. Perfeksionis
Orang tua menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap atau target tertentu yang umumnya melebihi kemampuan yang wajarnya dimiliki anak. Akibatnya, anak akan terobsesi untuk meraih prestasi yang diharapkan orang tuanya. Ia juga akan menjadi terlalu keras dan kritis terhadap dirinya sendiri.

4. Tidak memberi perhatian
Orang tua hanya menyediakan sedikit waktu untuk memperhatikan setiap perkembangan anak, atau membantu anak menempuh tahap demi tahap perkembangannya. Akibatnya, anak tak mampu membina hubungan dengan lingkungannya dan akan tumbuh menjadi anak yang impulsif.

5. Terlalu cemas akan kesehatannya
Orang tua terlalu berlebihan mencemaskan kondisi fisik anak. Padahal, secara obyektif, anak sehat. Sakit sedikit saja, orang tua cemasnya minta ampun. Akibatnya, anak akan mudah merasa tak sehat dan ikut merasakan kecemasan yang sama. Enggan bermain, takut jatuh, dan sebagainya.

6. Terlalu memanjakan
Misalnya, terus-menerus menghujani anak dengan barang-barang mahal atau memberikan pelayanan istimewa, tanpa mempertimbangkan apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak. Akibatnya, anak bisa menjadi anak yang gampang bosan, kurang inisiatif, dan tak memiliki daya juang.

7. Tidak pernah memberi kepercayaan
Orang tua selalu meramalkan kesalahan yang belum tentu dilakukan anak. Orang tua juga selalu mengritik anak, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya tak perlu kritikan. "Kamu, sih, nanti kalau jatuh, bagaimana?" Akibatnya, anak akan menjadi seorang yang pesimis, rendah diri, dan cenderung mengembangkan hal-hal yang selalu dilarang orang tua.

8. Menolak kehadiran anak
Misalnya, jenis kelamin anak tak sesuai dengan harapan orang tua, sehingga orang tua cenderung menolak menjadikan anak sebagai bagian dari keluarga. Akibatnya, semua tindakan yang dilakukan orang tua selalu merugikan anak. Anak bisa rendah diri dan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap orang tua.

9. Suka menghukum Orang tua bersikap agresif terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak, dan cenderung memilih
memberikan hukuman fisik dengan alasan mengajarkan disiplin. Bisa-bisa anak akan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar dilakukan dan akan melakukan hal yang sama terhadap keluarganya kelak.

10. Suka menggoda
Orang tua cenderung melecehkan keberadaan anak dengan sering mengolok-olok dan mengungkapkan kekurangan anak di depan orang banyak. Akibatnya, anak akan merasa tidak dihargai dan rendah diri.
Baca Selengkapnya »

3/06/2011

PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN TAMBAHAN BAGI GURU

    
    Ilmu pengetahuan tambahan seperti makanan tambahan, agar mendapat tambahan gizi jika makanan yang di makan merupakan makanan sehat tapi kalau makanan yang mengandung zat-zat beracun yaaa.. pintu rumah sakit terbuka lebar untuknya. Begitu juga halnya dengan ilmu pengetahuan di sekolah jika hanya mengandalkan buku paket dari penerbit tertentu saja (buku BOS).
     Asupan ilmu pengetahuan terbaru harus bisa dilakukan oleh setiap guru disekolah agar muridnya tidak tertinggal dengan kemajuan tekhnologi yang berkembang pesat. Di_Parepare, ilmu tambahan sering dilakukan akan tetapi refensi yang dimiliki masih kurang mengingat guru pemakai fasilitas perpustakaan kota dan Internet masih kurang, koran dan majalah yang beredar di sekolah-pun hanya mengandung berita miring politik kota. sangat jarang penulis menemukan chanel TV dirumah guru ataupun siswa menonton acara Televisi berwarna pendidikan apalagi diwaktu sore dan malam hari bahkan kota parepare tidak termasuk dalam kandatel managemen TELKOM sebagai pengguna internet dan rata-rata hasil tinjaun penulis selama 2 bulan di perpustakaan wilayah parepare hanya mencapai sekitar 1% pengunjung dari total penduduk kota Parepare.
       Tambahan ilmu diberikan juga harus sesuai dengan porsi usia mental siswa, jika masih SD sebaiknya tidak diajarkan konsep DNA yang rumit tapi hanya garis besarnya saja dan diberi contoh yang konkret berhubungan dengan keseharian siswa.
       Kesesuaian ilmu pengetahuan yang diterima siswa dengan kematangan mental siswa sebenarnya sangat jarang mencapai keseimbangan. Sebagai contoh, dari 20 siswa ada 2 orang siswa yang ber-IQ diatas rata-rata temannya dan akibatknya mereka selalu mendesak guru untuk memberikan pelajaran yang sedikit lebih rumit, tapi jika guru menaikkan level materi pelajaran maka siswa lain akan tertinggal karena proses loading 18 siswa lainnya lebih lamban, ini bukanlah keseimbangan dan sering terjadi disekolah khususnya di kota Parepare, dan jika guru mengabaikan 2 murid yang berotak Pentium Core i-3 demi 18 siswa berotak pentium celeron maka 2 siswa ini akan kehilangan efektivitas dan efisiensi kehidupan belajar mereka.
       Guru harus pandai bermanajemen kelas dan tentu saja dibantu oleh semua pihak sekolah agar kesesuaian/keseimbangan ilmu terhadap jumlah siswa tidak terabaikan dan menelan korban. berkaitan dengan ilmu tambahan guru, di kota Parepare masih cukup tertinggal dengan keadaan guru di Makassar karena akses referensi ilmu tambahan yang mudah dan kemauan guru-guru yang tua dan muda masih berkobar untuk tetap belajar agar menjadi guru teladan dari segi ilmu dan moralitas, tapi sayangnya akses ilmu ini tidak terfilter dengan baik dibantu antek-antek berpendidikan tapi tak bermoral dan etis meracuni jiwa anak-anak makassar dan sulawesi pada umumnya. Agar hal ini berkurang dan tambahan ilmu untuk guru berjalan lancar, tanggung jawab semua pihak instansi pendidikan mulai dari menteri, kementrian, lembaga, kepada dinas, kepala sekolah, guru, dan siswa harus saling sharing dan menasehati serta tidak adanya pengucilan Ide dari pihak manapun meski hanya bawahan atau orang luar, tapi kalau benar dan efektif, why not..
Baca Selengkapnya »

10/31/2010

mungkin siswa anda tidak bodoh

GAYA BELAJAR ANAK

Bolos (belajar disekolah membosankan)
        aduuuh, nih anak bodohnya minta ampun, malas dah mengajar kalau siswaku begini terus.
Jika anda pernah mengucapkan kata-kata diatas, sebaiknya cabut kembali kalimat tersebut karena banyak hal yang membuat siswa sulit menerima materi, berikut salah satunya yang saya kutip dari sebuah artikel.

Pernahkah kita mencari tahu, mengapa ada anak yang bisa duduk diam dan ada pula anak-anak yang tak pernah berhenti bergerak; ada anak yang suka mendengarkan cerita tapi ada juga yang lebih suka membaca buku atau melihat-lihat gambar.

Selama ini, khususnya di sekolah formal, hal-hal semacam itu mungkin hanya dijadikan catatan, namun tak membuahkan gagasan untuk menerapkan model belajar yang paling sesuai untuk setiap anak yang berbeda tersebut.

Bagi para pendidik rumahan alias orang tua, mengamati gaya anak-anak dalam beraktivitas tidaklah sulit.Namun tahukah kita bahwa gaya setiap anak dalam beraktivitas adalah cerminan dari gaya belajar mereka. Oleh karena itu, jika kita sudah bisa mendeteksi kecenderungan mereka dalam beraktivitas, hal itu akan sangat membantu kita dalam memilih model belajar paling tepat bagi mereka.

Thomas Amstrong memilah gaya belajar setiap orang menjadi tiga: Visual, Auditori, dan Kinestetik (Haptik). Mereka yang bergaya belajar visual sangat peka dengan gambar dan sesuatu yang menarik indera penglihatan lainnya. Oleh karena itu, anak-anak bertipe visual akan sangat terbantu belajarnya jika kita banyak mempergunakan gambar atau video.

Adapun mereka yang bertipe auditori, akan sangat tertarik dengan stimulasi yang memancing indra pendengaran: mungkin lagu atau musik/irama. Suara mereka biasanya nyaring dan senang berceloteh. Oleh karena itu, sangat baik bagi anak-anak auditori untuk memperoleh bantuan berupa kaset berisi lagu atau kata-kata berirama, dongeng, dan alat-alat stimulasi pendengaran lainnya.

Terakhir adalah gaya belajar kinestetik (haptik). Anak-anak haptik sangat suka bergerak, dan cara mereka belajar memang membutuhkan unsur gerak fisik. Mereka akan tersiksa jika dipaksa untuk duduk diam saat belajar. Namun, gaya belajar yang satu ini memang masih sulit diterima di sekolah formal yang pasti klasikal (terdiri atas banyak anak di dalam kelas).

Biasanya, guru yang tidak mengerti akan memberikan label "nakal" atau "pengganggu" pada  mereka. Memilih model belajar yang sesuai dengan gaya belajar anak, sangat penting agar proses belajar selalu berlanjut dengan suasana yang asyik bagi mereka.

Lalu, bagaimana jika gaya belajar anak-anak kita mungkin saja berbeda dengan gaya belajar  orang tuanya? Tentu saja, orang tua harus 'legowo' untuk menerapkan model belajar yang  sesuai dengan anak-anak. Jika pun kita tidak bisa melakukannya sendiri, kita bisa minta bantuan nenek, tante, atau teman dekat yang memang memiliki gaya yang cocok untuk mengajar anak-anak kita. Nggak ada salahnya, kan?
Baca Selengkapnya »

10/20/2010

HADITS PALSU/ LEMAH DIAJARKAN DI SEKOLAH

         Sekolah adalah tempat dimana kita menimba ilmu demi masa depan yang cerah. sekolah memberi kita waktu untuk menimba ilmu dan menelusuri kebenarannya dengan bantuan dari guru. semua manusia yang telah berhasil secara finansial dan non-finansial yang pernah mengecap pendidikan hingga setidaknya tingkat menengah pasti akan berterima kasih pada gurunya dahulu disekolah, meski gurunya dulu sering memukul dan memarahinya seseorang yang berhasil akan dengan cepat melupan hal itu.
          
          Tak dapat dipungkiri, sekolah memang telah mengubah banyak manusia menjadi lebih baik pada sisi moral, tapi bagaimana dengan sisi bobot keilmuan yang telah mereka peroleh dari sekolah. mari kita simak kisah berikut.


Anak kecil itu berlari-lari pulang ke rumahnya. Tangannya yang mungil memegang sepucuk surat dari guru sekolahnya. Di ambang pintu rumah ia berteriak, "Mama, Mama, ada surat dari Pak Guru". Ibunya, Nancy Elliot, mantan guru, menyambut anak bungsu dari tujuh bersaudara itu dengan ciuman dan pelukan penuh kasih sayang.

"Coba Mama lihat," ujarnya seraya membuka amplop surat dengan hati-hati. Tangannya gemetar saat matanya menelusuri kata demi kata yang terpampang jelas di hadapannya: "Anak ini terlalu bodoh untuk dididik. Kami mengembalikannya pada Anda. Mulai besok, ia tak perlu datang ke sekolah lagi."

"Ma, mengapa Mama menangis?" tanya si anak, penuh keluguan. Dengan cucuran air mata sang ibu meraih tubuh kecil itu, memeluknya sambil berkata, "Thomas, I educate you my self."

         Semua orang tahu siapa pemeran cerita diatas, ya! dia Thomas Alfa Edison yang telah di DO dari sekolahnya  dan wafat sebagai seorang penemu briliant, lalu apa sebenarnya fungsi dari sekolah jika yang diasah hanya moral dan itupun tidak menjanjikan di kemudian hari. mari kita melihat kemajuan dalam negara kita Indonesia, nampaknya sekolah di Indonesia kurang efektif dan kurang efisien, bisa dipermudah malah dipersulit.

        Intinya, sekolah di seluruh dunia tercatat bahwa kesalahan dalam hal efektifitas pembelajaran dan penilaian ada pada personil sekolah dari guru hingga pejabat-pejabat diatasnya, tapi khusus di Indonesia juga termasuk orangtua murid yang menitik beratkan pendidikan kepada sekolah anaknya hingga lebih banyak menyalahkan guru dari pada koreksi diri sendiri tentang cara mendidik anak.

        Proses transfer ilmu tidak dapat dihindari jika kita berada dalam lingkup sekolah dan ilmu itu berbagai macam mulai dari bahasa/sastra, moral, sains, sejarah, hingga gosip terbaru dikalangan guru - guru perempuan. ilmu yang terus bertukar dan bertambah ini sangat membutuhkan filter yang kasar dan halus dalam hal ini saya hanya membahas tentang Pendidikan Agama Islam (PENDAIS) karena islam berpedoman  pada al-Qu'ran dan Hadits.

         al-Qu'ran dan Hadits bersumber dari Allah dan ditranslate oleh Nabi Muhammad hingga sampai pada kita termasuk guru pendidikan agama islam di sekolah-sekolah diseluruh dunia. Berkaitan dengan sejarah maka perlu diperhatikan kebenaran asal dari Hadits itu sendiri (Al-Qur'an tidak termasuk karena Allah telah menyatakan memeliharanya hingga akhir Zaman), nah! apakah guru-guru sudah tahu hal itu, tentu saja mereka tahu tentang derajat hadits dari yang shahih hingga maudhu (palsu), hanya saja guru-guru pendais lebih sibuk memikirkan tekhnik mengajar yang baik dari pada kesahihan hadits yang mereka transfer pada murid, al hasil murid-pun menelan mentah-mentah hadits yang tidak bersumber dari rasulullah, sebagai contoh pada tingkat SLTP masih beredar hadits "bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup untuk selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok"...

Wallahu 'alam


Baca Selengkapnya »

10/01/2010

MENGAPA ORANG YANG CERDAS LEBIH BANYAK YANG GAGAL?


Mengapa orang yang lebih sosial berhasil sedangkan yang IQ-nya sedang banyak yang gagal? Pertama-tama kita perlu pahami dulu bahwa kecerdasan emosi (EQ) bukanlah lawan dari kosien kecerdasan (IQ). EQ justru melengkapi IQ seperti halnya kecerdasan akademik dan ketrampilan kognitif. 

Penelitian menunjukkan bahwa sebenarnya kondisi emosi mempengaruhi fungsi otak dan kecepatan kerjanya (Cryer dalam Kemper).

Penelitian bahkan juga menunjukkan bahwa kemampuan intelektual  Albert Einstein yang luar biasa itu mungkin berhubungan dengan bagian otak yang mendukung fungsi psikologis, yang disebut amygdala.

Meskipun demikian, EQ dan IQ berbeda dalam hal mempelajari dan mengembangkannya. IQ merupakan potensi genetik yang terbentuk saat lahir dan menjadi mantap pada usia tertentu saat pra-pubertas, dan sesudah itu tidak dapat lagi dikembangkan atau ditingkatkan. Sebaliknya, EQ bias dipelajari, dikembangkan dan ditingkatkan pada segala umur. Penelitian justeru menunjukkan bahwa kemampuan kita untuk mempelajari EQ meningkat dengan bertambahnya usia.

Perbedaan lain, IQ merupakan kemampuan ambang yang hanya bisa menunjukkan jalan bagi karir kita atau membuat kita bekerja di bidang tertentu; sedangkan EQ berjalan di jalan itu dan mempromosikan kita di bidang itu. Oleh karena itu, keseimbangan antara IQ dan EQ merupakan unsur penting dalam keberhasilan manajerial. 

Sampai tingkat tertentu, IQ mendorong kinerja produktif; tapi kompetensi berbasis-IQ dianggap "kemampuan ambang", artinya kemampuan yang diperlukan untuk pekerjaan rata-rata. 

Sebaliknya, kompetensi dan ketrampilan berbasis-EQ jauh lebih efektif, terutama pada tingkat organisasi yang lebih tinggi ketika perbedaan IQ dapat diabaikan. 

Dalam studi perbandingan antara orang yang kinerjanya cemerlang dan yang biasa-biasa saja pada organisasi tingkat tinggi, perbedaannya 85% disebabkan oleh kompetensi berbasis-EQ, bukan IQ. Dr Goleman mengatakan bahwa walaupun organisasinya berbeda, kebutuhannya berbeda, ternyata EQ menyumbangkan 80-90% untuk memprediksikan keberhasilan dalam organisasi secara umum.
Kami merujuk kepada studi kasus yang dilakukan oleh Dr. Goleman dan dua peneliti EQ terkenal lain untuk menganalisis bagaimana kompetensi EQ berkontribusi bagi laba yang didapatkan sebuah firma akuntansi yang besar. 

Pertama, IQ dan EQ para partisipan diuji dan dianalisis secara mendalam; kemudian mereka diorganisasi ke dalam beberapa kelompok kerja, dan masing-masing kelompok diberi pelatihan mengenai satu bentuk kompetensi EQ, seperti manajemen-diri dan ketrampilan sosial; sebagai kontrol adalah satu kelompok yang terdiri atas orang-orang ber-IQ tinggi. 

Ketika dilakukan evaluasi nilai-tambah ekonomi yang diberikan kompetensi EQ dan IQ, hasilnya sangat mencengangkan. Kelompok dengan ketrampilan sosial tinggi menghasilkan skor peningkatan laba 110% , sementara yang dibekali  manajemen-diri mencatat peningkatan laba 390%, peningkatan $ 1.465.000 per tahun. 

Sebaliknya, kelompok dengan kemampuan kognitif dan analitik tinggi, yang mencerminkan IQ, hanya menambah laba 50%; artinya, IQ memang meningkatkan kinerja, tapi secara terbatas karena hanya merupakan kemampuan ambang. Kompetensi berbasis EQ jelas jauh lebih mendorong kinerja.

Penulis : Mohamed El-Kamony adalah mahasiswa yunior American University di Cairo yang mengambil bidang utama Administrasi Bisnis dengan konsentrasi ganda dalam pemasaran dan keuangan.
Baca Selengkapnya »